Postingan

Menampilkan postingan dengan label Demokrasi

Menuju Sekularitas, Maukah?

MENUJU SEKULARISASI, MAUKAH? by Suteki Kolom Agama/Kepercayaan dlm Blangko KTP dihilangkan? Saya tidak setuju. Itu justru tidak mencerminkan kita sebagai insan Pancasila. Untuk apa sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita akan tambah goblok, bukan tambah pinter. Kecerdasan spiritual itu penting dalam hidup, bukan kecerdasan intelektual saja. Pada waktunya nanti kita harus punya rezim pemerintahan yang benar-benar paham dengan grund norm kita, Pancasila. Penafsiran yang sekularistik hanya akan semakin menjauhkan insan manusia dari tujuan hidup berbangsa dan bernegara. Sejahtera lahir dan bathin. Baca kembali dan renungi makna PEMBUKAAN UUD NRI 1945. Para pendiri negara ini sudah punya visi besar dan mulia bagaimana negara bangsa ini hendak dikembangkan dan dibesarkan. Ideologi negara dan konstitusi kita seharusnya menjadi LEITZTERN atau bintang pemandu bagi haluan bahtera Indonesia ini diarahkan. Kita berjalan bukan tanpa panduan, bukan tanpa kompas yang visioner. Hendaknya kepenti...

BH Just As A Topping

BH JUST AS A TOPPING By Suteki Temen netizen, saya ditanya oleh Sdr Bastian Noor Pribadi sbb: "Pertanyaan kepada Prof Suteki, kalau PKI mengakui Tuhan, apakah boleh didirikan lagi? Seperti Tan Malaka yang pernah bilang: "Saya Komunis, tetapi saya bukan Atheis". Saya jawab: "Yang dilarang itu bukan hanya atheisme nya tetapi juga komunismenya. Jadi baik ada keduanya atau salah satunya, maka keduanya dilarang". Pernah saya membuat status dalam salah satu akun jejaring sosial: "Kalau menulis buku "Aku Bangga Menjadi Anak PKI, maka menulis buku " AKU BANGGA MENJADI ANAK HTI", mestinya juga tidak dilarang dan sah untuk diedarkan. Anaknya belum tentu sama sealiran dengan orang tuanya. Bisa diperlebar lagi: AKU BANGGA MENJADI TEMAN HTI, AKU BANGGA MENJADI TETANGGA HTI. Menurut saya terlalu berlebihan bila APH melakukan pendataan anggota HTI baik secara terang-terangan maupun tersamar. Mereka bukan organisasi terlarang sperti PKI. HTI i...

Moslem In Crisis...!

Suteki - Apakah cukup indentitas moslem dan Islam itu sekedar: PECI, BAJU KOKO, DAN SARUNG? Lalu identitas ketauhidannya di mana? Apakah cukup Islam itu hanya berurusan dengan moralitas saja? Lalu ideologinya di mana? Ideologi Islam inilah yg seharusnya menuntun pembentukan identitas moslem sebagai rahmatan lil 'alamin . Tetapi tidak harus mengatakan SEMUA AGAMA ITU SAMA. Klo agama itu sama, mengapa kita tidak pernah atau jarang mencoba untuk pindah-pindah agama? Dalam setahun tiap dua bulan kita bisa pindah agama sesuai dengan selera kita. Why not? Toleransi tidak harus dilakukan dengan macem cara seperti di tayangan video ini. (https://web.facebook.com/rindumamah/videos/10209472632748972/) Kok nadanya sama: APA PUN AGAMANYA PASTI DIJAMIN DAPAT TEMPAT TERBAIK DI SISI ALLOH, DAPAT RUMAH... DAPAT MAKAN dst. Benarkah begitu? Memang benar kita blm pernah ada yang ngalami mati, tapi persoalan hidup setelah mati itu bukan RAMALAN, melainkan telah ditulis dalam kitab yang n...

Sajak Untuk Negeri: Berani atau Mundur

BERANI ATAU MUNDUR by John Suteki Tarikh masehi terus melaju Waktu ke waktu melenggang seolah tiada peduli Torehan berbagai cerita anak negeriku Betapa susahnya mencari suaka di negeri sendiri Indahnya syair pujangga tak lagi terasa Merdunya dendang nyanyian sinden pun tak mampu lagi Mengusir gundah gulana hati pengembara Di sudut desa kota yang tersisa tinggal sumpah serapah menista Selaksa gunung air bah menyapu ngarai Terik mentari terus membakar jiwa Tangis pilu lirih terdengar menyayat Bagai kidung nestapa kehancuran pertiwi Tuhan, ke mana lagi hendak kusimpuhkan jejak Sedang di rumah-Mu pun diri tak aman Suaka diri kucari lagi entah di negeri apa Agar kubisa bermesra kembali dalam doa Kuyakin masih tersisa penggalan keberanian Melaju berani menapaki rentang tarikh tersisa Ataukah kuurungkan niat suciku Mundur teratur mengais sisa hangat dahana Mungkinkah asa kembali berkobar Dahana meletup buuuuum, melangit meraih cita

Negara Hukum III: Persekusi

Negara Hukum III : PERSEKUSI (Cerita Kehidupan oleh AM. Ruslan) “Satu orang sudah ditangkap dan saya perintahkan untuk dikembangkan. Dan kemudian yang lai-lainnya seperti di Sumatera Barat agar dilakukan proses hukum supaya tidak terulang lagi. Tidak boleh main hakim sendiri. Kalo ada apa-apa laporkan pada kepolisian, tidak boleh melakukan upaya-upaya sendiri. Dan saya peritekintahkan pada kepolisian kalo ada yang melakukan upaya itu, jangan takut, saya akan back up . Tindak tegas sesuai aturan yang berlaku” ungkap pihak kepolisian RI di tengah-tengah awak media. “Sepertinya, sudah mendapat perintah resmi, ya dari kepolisian untuk melawan tindak PERSEKUSI” dua report berita saling tatap dan setelah bercakap-cakap untuk beberapa detik, mereka melanjutkan berita malam itu. Prof. Teki duduk selonjoran di depan televisi sambil menikmati kopi hitam buatan sang isteri. Hari ini beliau merasa capek, energinya serasa terkuras habis oleh perdebatan tidak berguna di kantor kepolis...

Praktik Tidak Perlu Teori "Ndekak-Ndekik"

Suteki - Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi untuk berteori. Sudah terbukti to, lulusan SMP bisa jadi menteri, lulusan SMA bisa jadi presiden, begitupun S1 bisa. Buat apa S2 dan S3 kalau hanya untuk menyusun tumpukan teori yang tidak berarti lagi? Menurut saya, Indonesia ini tidak butuh orang alim, pinter dgn berjibun paradigma, teori, konsep, prinsip, dogma-dogma. Semua itu hanya " lips service ", a myth, an illusion --- cekak aose : mung lamis! Yang penting punya POWER. THE HAVES . Benar kata Marc Galanter: THE HAVES ALWAYS COME OUT AHEAD.Teori yg semula berfungsi untuk: GIVING EXPLANATION hanya berakhir sebagai macan kertas terbuang di bak sampah dan membusuk menebar bau tak sedap. Aroma hukum, aroma politik, aroma budaya dan aroma ekonomi terasa penuh udara berdebu. Selaksa teori tak lagi mampu mengurai mengapa udara berdebu. Mata telah tertutup oleh ambisi, keserakahan hidup hingga seribu obor pun tak mampu membuat mata itu melek kembali. L'ETAT C'EST MO...

Respon Terhadap Dewan Pengarah UPK sebagai Jabatan Setingkat Menteri

Suteki - Teman netizen, selamat beraktifitas apa saja... Informasi yang bersumber dari Posmetro.info yang memberitakan bahwa Megawati Akan Dilantik Jokowi Sebagai Dewan Pengarah UKP Pancasila, Jabatan Setingkat Menteri ini semoga benar, Indonesia sekarang punya UKP-PIP (Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila). Insyaalloh diketuai oleh Yang Mulia Ibu Megawati, mantan Presiden RI ke-5. Saya tetap berharap bahwa meski sdh ada Dewa(n) nya, pemerintah tidak menjadikan Pancasila sbg alat legitimasi kekuasaan. Artinya, tidak menjadikan Pancasila sebagai alat untuk meng-GEBUK lawan-lawan politik atau orang-orang yang tidak sejalan, tidak sepaham bahkan mungkin bertentangan dengan Pemerintah. Seharusnya disadari bahwa kita sudah di era demokrasi yang dijiwai oleh prinsip THE OPEN SOCIETY . Sebagaimana dikemukakan oleh Karl Raimund Popper, dalam masyarakat ini KRITIK dianggap sebagai sarana untuk membangun menjadi lebih baik. Kritik bukan dianggap sebagai musuh. Dalam hal ini, s...

Negara Hukum II: Intimidasi Ilmuwan

Negara Hukum II : INTIMIDASI ILMUWAN (Cerita Kehidupan Oleh AM. Ruslan) Pagi itu, rumah pakteki Warno atau yang lebih akrab dipanggil ust. Arno terlihat ramai. Beberapa pasang sandal dan sepatu berjejer rapi, sementara dari dalam ruang tamu terdengar suara seperti menyusun sebuah acara atau istilah kerennya “rundown acara”. “Besok insyaa Allah, akhina Yusuf siap menjadi pembaca tilawah”“Apakah yang bersangkutan sudah dikonfirmasi?” ust. Arno memastikan“Alhamdulillah, sudah tadz” jawab kang Firman,“Tadz!”“Ya”“Hp nya bordering, tadz” Arif menunjuk Hp ust. Arno yang ada di sampingnya“o iya… makasih, Kang!”tidak lama kemudian terdengar suara dari seberang telepon dan tiba-tiba mimik wajah beliau berubah tidak bersahabat. “Ada masalah kah, Tadz?” semua bertanya dalam waktu bersamaan dengan perasaan gelisah. *** “Hadiri seminarku besok jam 10.00 di hotel Candi” terdengar tawa dari para mahasiswa, “iya, Proof!” Prof. Teki tersenyum sesekali tertawa ringan diantara mahasiswanya. ...

Negara Hukum: Sebuah Cerita Kehidupan

Negara Hukum (Sebuah cerita kehidupan oleh AM. Ruslan) “Negara hukum mesti melindungi rakyatnya bahkan harus membahagiakan rakyatnya”. Jelas Prof. Teki di hadapan para mahasiswanya. Prof. Teki adalah guru besar fakultas hukum di universitas itu. Pagi ini beliau mengisi kelas pasca sarjana dengan suasana yang sedikit energik, aroma perpolitikan nasional akhir-akhir ini yang sangat tidak kondusif memaksa berbagai kalangan merapat untuk membincangkan keberlanjutan kehidupan pohon besar bernama INDONESIA, terlebih lagi problem hukum yang ada dalam negeri yang menobatkan dirinya sebagai negeri DARUSSALAAM-Negara Damai-sangatlah mengiris hati, malu jika mendengar apalagi menceritakan kepada pihak luar. Sebuah Keadilan yang telah runtuh, hilang ditelan keserakahan politikus kotor. “Ma’af, Prof!” suara mahasiswa didepannya memotong “John Austin mengatakan hukum adalah perintah pihak yang berdaulat. Dengan kata lain yang membuat aturan adalah penguasa tanpa memikirkan kebaikan ...

Persekusi Di Mata Guru Besar Fakultas Hukum UNDIP

Gambar
Suteki - PERSEKUSI menjadi perbincangan yang hangat beberapa hari ini. Lagi-lagi polisi yang menjadi "episentrum" viralnya istilah ini. Padahal sebelum munculnya konflik vertikal ulama dan umaro serta konflik horizontal antara sesama anggota masyarakat pelaku hate speech . Istilah persekusi tidaklah populer dalam criminal justice system kita maupun dalam perbincangan warga masyarakat. Mereka mengenal istilah yang lebih populer yakni PERKUSI musik yang melenakan. PERSEKUSI dalam bahasa yang lebih gampang dipahami sebagai perbuatan (lisan, tulisan, tindakan) seseorang atau kelompok orang (misal A) menghakimi seseorang (misal si B) yang diduga melakukan perbuatan (lisan, tulisan, tindakan) yang dinilai telah merendahkan, merugikan pihak A (perbuatan X) dengan cara melakukan kekerasan, ancaman kekerasan dengan tujuan supaya pihak tersebut melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan tertentu (misal Y). Mungkin, kalau boleh saya berikan bahasa yang sederhana dengan is...

Persekusi Ilmuwan: Larangan Bagi FSPI Melaksanakan Diskursus Islam, Indonesia, dan Khilafah

Gambar
Suteki - Mengapa acara seperti ini tidak boleh diselenggarakan? Apakah ini bagian dari Persekusi Ilmuwan? Saat Forum Studi Politik Islam (FSPI) mahasiswa Universitas Diponegoro berencana mempersembahkan Diskusi Publik berupa Diskursus tentang Islam, Indonesia, dan Khilafah dengan pembicara: Prof. DR. Suteki, M.Hum ( Law and Society Professor FH Undip) dan Choirul Anam, M.Si. (Penulis Buku Cinta Indonesia Rindu Khilafah) mendapat larangan dari beberapa pihak. Menurut Panitia, sejak pagi hari Ahad 4 Juni 2017 sebelum acara digelar, pihak Hotel Candi Indah Semarang Kalisari mendapat telpon dari beberapa oknum melarang pelaksanaan diskursus di hotel tersebut. Sehingga panitia memutuskan untuk mengurungkan pelaksanaan diskusi publik tersebut. Sebelumnya, Diskursus Islam, Indonesia, dan Khilafah akan dilaksanakan dalam rangka Pelantikan Pengurus Forum Study Politik Islam (FSPI) Mahasiswa Universitas Diponegoro yang bersifat Free namun terbatas hanya untuk 100 Peserta terdaf...

Mimpi Model Khilafah Di Tengah Dunia Demokrasi

Gambar
Suteki - Saya sudah membaca artikel Prof. Dr. Mahfud MD tentang MENOLAK KHILAFAH. Saya mendapat kesan bahwa khilafah tidak cocok dengan sistem masyarakat sekarang yang berada dalam pola demokrasi modern--- yang menurut saya juga makan berapa juta korban utk mewujudkannya. Dengan dalih demokrasi, berapa juta orang terbunuh, tersiksa, terhina juga... Situasi dan kondisi masyarakat kita bukan tdk mungkin berulang, terulang hanya bentuk-bentuk perwujudannya yang berbeda. Jaman jahiliyah pun bisa terulang pada zaman sekarang. Benarkah sistem pemerintahan khilafah tidak bisa bermetamorfose pada zaman sekarang? Memang benar tidak ada pedoman baku dalam khilafah, namun tidak bisakah dari sekian kekhalifahan itu diambil modus vivendinya ? Kalau kita mau, apa yang tidak bisa dibicarakan? Tapi kalau kita sudah antipati, apa yang bisa dibicarakan? Pertanyaan saya: Klo sistem khilafah salah, tidak disukai oleh umat Islam sekali pun, beranikah kita menyatakan bahwa khilafah pada saat Nabi da...

Kriteria Organisasi yang Bertentangan dengan Pancasila

Gambar
Suteki - Kata Menristekdikti: Gerakan dan organisasi yang bertentangan dengan ideologi Pancasila tidak boleh hidup di kampus. Sesuai dengan UU No. 17 Tahun 2013 Tentang Ormas, yang dimaksud bertentangan ideologi Pancasila itu ada 3: Ideologi Atheisme Ideologi Komunisme Ideologi Marxisme-Leninisme. Lalu pertanyaannya, ideologi ISLAM bertentangan apa tidak dengan Pancasila? Jawabnya: PASTI TIDAK BERTENTANGAN. Bila jawabnya tidak bertentangan, bolehkah ada gerakan dan organisasi yang menyebarluaskan syariat Islam melalui dakwah dan muamalah? Kalau boleh, apakah organisasi yang tidak bertentangan PANCASILA dan dijamin dalam menjalankan syariat agama sebagaimana diatur dalam kitabnya DAPAT dibubarkan, mengingat NEGARA INDONESIA IALAH NEGARA BERDASAR ATAS KETUHANAN YANG MAHA ESA. MENURUT TEMAN-TEMANKU, BOLEHKAH ORGANISASI SEMACAM ITU HIDUP DI KAMPUS?